Home Blog Page 20

Akibat Aduan Sampai Presiden, Penambang Gol C Ilegal Klaten Dibina Dinas PU dan ESDM

0

KLATEN, Pengusaha tambang Galian C/ Penambangan Mineral Bukan Logam  dilereng merapai mendapat pembinaan dari Dinas PU dan ESDM, khususnya bagi penambang illegal. Sebanyak 10 penambang yang diundang ke kantor, hanya 4 pengusaha yang menghadiri undangan. Klaten, Jumat (29/04).

Kehadiran penambang golongan C yang dikategorikan illegal, diruang Kadinas PU dan ESDM dihadapkan oleh Tim yang meliputi Dinas PU dan ESDM, Bappeda, Bagian Perekonomian, Bagian Hukum, Dinas Pertanian dan pihak kecamatan Kemalang. Kebanyakan titik tambang yang diundang untuk hadir adalah di wilayah kecamatan Kemalang.

“Alasan yang mendorong untuk melakukan pembinaan karena ada aduan yang sudah sampai Presiden maka mau tidak mau kita harus melakukan pembinaan”, kata Widaya saat membuka acara.

Sriyono salah satu pengusaha tambang illegal menyampaikan dalam rapat, melakukan aktifitas penambangan baru 14 hari sejak pertengahan April 2016, dengan luas 4000 M2, tanah tersebut tanah “beran” (tidak produktif).

“Sistim pengelolaan kami dengan bagi hasil kepada pemilik lahan, RT, RW, Desa, setelah kita kupas lapisan atas sampai ketemu pasir  selanjutnya dikeruk secara manual, terangnya.

“Dalam sehari mampu menghasilkan 8 ritase, kita tidak memiliki dokumen apapun, tidak mengetahui proses perijinan”, pungkasnya.

Senada Giyanto yang juga pengusaha tambang gol C titik lain, memiliki 1 alat eskavator dan 8 truck, luas areal yang ditambang seluas 3800 M2, namun pernah mengajukan ijin reklamasi, tukasnya.

Ditambahkan Widaya kabid ESDM, modusnya hampir sama melakukan reklamasi lahan, dan ada pihak pihak tertentu yang siap membantu untuk mencarikan ijin mulai dari oknum Polisi, Dewan atau Eksekutive.

Kemalang sudah seperti metropolis, selama 24 jam tidak mati, hiruk pikuk dan derungan truck dan alat berat sudah mengganggu kenyamanan masyarakat.

Begitu juga tim yang lain dari bagian Hukum, Bagian Ekonomi, Bappeda, berharap tidak melakukan aktifitas tambang dulu sebelum ijin dilengkapi, dan harus sesuai zona sesuai Perda RTRW, mengurus UKL UPL.  Ada 8 Penambang Gol C yang legal/ resmi dan mereka tertib membayar pajak.

Berbeda dengan Dinas Pertanian, menegaskan bahwa untuk ijin Penataan lahan prinsipnya menata dan seharusnya menambah tanah subur dari luar. Jika ada niatan mengeluarkan material dari lokasi maka itu bukan penataan lahan, dan itu melanggar hukum.

Sarwo Edi Wibowo Pengusaha tambang yang datang belakangan secara terang-terangan menyampaikan dihadapan tim dan awak media mengakui sebagai penambang illegal.

“ Terimakasih atas pembinaan bagi penambang Illegal, Ada Perda, Undang-Undang, aturannya demikian, tetapi perlu diingat bahwa penambangan di Kemalang atas kemauan pemilik dan warga”.

Secara Komprehensif dibina dan itu kepada seluruh warga, “ Kita mendukung untuk ditutup tapi dibuka masalah tambang semuanya, penambang illegal dibutuhkan masyarakat karena kebutuhan ekonomi”, tegasnya.

Lanjut Sarwo Edi Wibowo, Penambang yang Legal sudah kaya, dan kesalahannya juga banyak tetapi tertutup kertas legal. Kita butuh keadilan, mari kita buka dari hulu sampai hilir, kita melanggar semua maka dengan resiko apapun kita tetap melakukan penambangan.

“Pihak atas (pemerintah dan instansi) tahu betul persoalan ini, tapi pura-pura tidak tahu”.

“Saya penambang illegal baik di Muntilan, Magelang, Kemalang, kalau ada di Jogja pasti saya nambang disana, resiko ditankap tidak apa-apa”, tambahnya.

Baca juga jual pasir jogja

Diakhir pembicaraannya Bowo panggilan akrab Sarwo Edi Wibowo menegaskan, pembinaan harus mulai dari bawah, warga masyarakatnya karena pelakunya ya Bayan, ya Lurah. Maka harus dibuka agar terang benderang, jika adil pasti rakyat mendukung. Dan ada beberapa yang tidak bisa saya sampaikan disini karena akan gaduh. Ini bukan persoalan kecil dari hal ini dapat menimbulkan dampak yang luar biasa.

“Kemarin ada LSM dari Bantul yang melaporkan ke Presiden, tadi malam saya tangkap dan laporan itu bikin malu Kapolda dan Kapolres, saya Koordinator Induk Koperasi Kepolisian wilayah Jateng dan DIY (Inkopol), ini urusannya Mabes”, pungkasnya.

Pembinaan terhadap penambang Golongan C (penambangan mineral bukan Logam) dilakukan atas dasar pelaporan dari Aktivis Anti Korupsi Independen ke presiden tertanggal 8 April 2016 yang lalu. Dalam laporan tersebut terdapat 12 titik penambangan di Kemalang yang berada di Tegalmulyo, Sidorejo, Kendalsari, hal ini melanggar UU no 4 tahun 2009  tentang pertambangan Mineral dan UU no 22 tahun 2001 tentang minyak dan Gas karena disnyalir memakai BBM jenis Solar bersubsidi mencapai 300 liter per hari.

Ihsan abd nusantara |waktoe

sumber : waktoe.com

Debu Merapi Lama Jadi Primadona Gunungkidul

0

Wonosari, (sorotgunungkidul)–Pasir dari wilayah Merapi merupakan salah satu bahan material yang digandrungi untuk mendirikan sebuah bangunan. Meskipun harganya lebih mahal dibanding dari tempat lain, pasir tersebut selalu menjadi primadona.

Lantaran pasir merupakan bahan pokok untuk mendirikan bangunan, maka permintaan pasir oleh masyarakat di Kabupaten Gunungkidul selalu tinggi. Terbukti, truk-truk pengangkut pasir sering dijumpai di jalan.

Surono, pengusaha Batako di Kecamatan Wonosari menjelaskan, ada dua jenis pasir yang biasanya dipesan di wilayah Gunungkidul yakni jenis Progo dan Merapi. Berdasarkan kebanyakan pesanan kepada dirinya, pasir dari wilayah Merapi tetap menjadi favorit sejak dulu.

Baca juga:  jual urug jogja

“Untuk sampai di Gunungkidul harganya sekitar  Rp 1,4 juta per bak truk, itu sudah termasuk transport dan uang jajan,” ujar Surono, Selasa (05/04/2016).

Mahalnya harga tersebut disebabkan oleh semakin banyaknya permintaan, namun stok barang langka karena dampak aturan tambang yang masih belum jelas.

“Saat ini susah cari pasir, penambang tidak selalu dapat banyak. Jadi dampaknya pesanan jadi agak lama,” kata Surono.

Soal pasir Merapi lama jadi favorit dipakai sebagai bahan dasar membuat bangunan, lanjut Surono, disebabkan karena pasir Merapi dianggap dapat menghemat jumlah penggunaan semen. Sebab pasir dari wilayah Merapi masih banyak mengandung abu.

“Kalau pasir yang dari Progo itu sudah tidak ada abunya lagi. Jadi bikin tambah boros penggunaan semennya,” tambah dia.

Pangkalan Pasir Bangunan Masih Lesu Pembeli

0

WONOSARI,(KH) — Keberadaan penjual pasir baik di pangkalan pasir maupun pedagang keliling dengan truk dahulu menjadi andalan warga yang sedang membangun rumah maupun bangunan lainnya. Kondisi saat ini, para penjual pasir di pangkalan maupun penjual keliling mengaku masih sepi pembeli.

Pantauan KH di pangkalan pasir Kepek 2, Kepek, Wonosari, para sopir truk penjual pasir lebih banyak duduk santai di pangkalan pasir tersebut. Sebagian sopir mengungkapkan, pembeli pasir menurun drastis.

Baca juga :  jual pasir area wonosari 

“Dahulu pangkalan pasir Kepek 2 mampu menampung 15-20 rit pasir, saat ini hanya menampung 6 rit pasir setiap harinya, itupun kadang tidak semua laku terjual,” ucap Hermanto, pengelola pangkalan paguyuban sopir sopir truk Gunungkidul.

Ia menceritakan, saat ini untuk dapat memperoleh setoran sebesar Rp 100 ribu dalam waktu sehari sangat sulit. Agar mampu mencari setoran dan kebutuhan hidup, para sopir menjual pasir keliling.

Salah seorang sopir truk pasir, Diyono menambahkan, pasir dari Kali Progo didapatkan dengan membeli seharga Rp 500 ribu. Jika dijual sampai ke warga dijual dengan harga Rp 900 – 1 juta.

“Karena biaya dari mengambil pasir sudah mahal ditambah harga bbm kian menanjak, setoran bahkan ada yang mencapai Rp 200 ribu per hari. Hal ini membuat sopir truk pasir tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan harga yang murah,” jelas Diyono.

Menurut Diyono, warga yang membeli pasir mulai ramai saat musim kemarau tiba. Pasalnya setiap musim kemarau banyak warga yang memperbaiki maupun membangun rumah.

“Ini sepi, sejak awal 2015 lalu, mau tidak mau sopir truk pasir harus jemput bola dengan menjual pasir keliling,” pungkasnya. (Atmaja).

Sumber : kabarhandayani.com

PENAMBANGAN ILEGAL SLEMAN Polisi Minta Warga Proaktif untuk Melaporkan

0

SLEMAN- Polres Sleman mengajak keterlibatan masyarakat untuk melaporkan aktivitas pertambangan pasir di sekitarnya. Polisi siap menindak tegas para penambang liar itu. Kapolres Sleman AKBP Burkan Rudy Satria mengatakan, tindakan tegas akan dilakukan petugas kepada penambang pasir liar. Hal itu, katanya, sesuai intruksi Kapolda DIY agar penambangan pasir ilegal atau tidak berijin diberhentikan. “Kalau masih membandel, kami tindak secara tegas sesuai peraturan yang berlaku. Kami tidak akan tembang pilih dalam penindakanya,” kata Burkan, Kamis (19/1/2017).

Dia mengaku sudah menyampaikan instruksi tersebut ke masing-masing Polsek. Polsek juga diingatkan untuk mengungkap segera kasus-kasus yang menjadi perhatian publik. Hal itu dilakukan agar tidak ada kesan polisi tebang pilih dalam menangani kasus atau seolah-olah melindungi pelaku kejahatan.

Polres, jelas Burkan, memang tidak memiliki peta lokasi penambangan pasir liar. Meski begitu, monitoring tetal dilakukan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dijadikan penambangan. Seperti di Kecamatan Cangkringan, Pakem dan Turi. “Kami juga meminta partisipasi warga, kalau ada penambangan liar di sekitarnya, laporkan kepada kami,” ucapnya.

Aktivitas penambangan pasir illegal menggunakan alat berat di perbatasan antara Desa Umbulharjo dan Kepuharjo, Cangkringan, Selasa (11/10/2016). (Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja)

 

Ditambahkan Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Sepuh Siregar, penambangan pasir tanpa izin yang terjadi umumnya tanpa perencanaan matang dan cenderung merusak lingkungan. “Banyak kasus yang muncul, penambang pasir hanya melakukan perjanjian dengan pemilik lahan, tanpa mengurus izin. Ngakunya izin masih diproses, itu tetap kami larang. Penambang haruz urus izin sampai selesai,” katanya.

Banyak juga penambang yang hanya memiliki izin eksplorasi, tetapi nekat melakukan eksploitasi. Mereka beralasan sebagai bagian dari penelitian. “Itu alasan saja, ujung-ujungnya mengeruk pasir juga. Banyak modus yang dilakukan penambang liar. Tetapi kami akan lakukan penegakan hukum sesuai UU No.4/2009 tentang Penambangan Minerba,” ujarnya.

Upaya tegas pihak kepolisian memang tidak main-main. Proses penghentian penambangan liar menggunakan alat berat di Umbulharjo, Cangkringan, beberapa waktu lalu, juga karena Kepolisian Sektor (Polsek) Cangkringan memberikan peringatan keras terkait aktivitas penambangan illegal di sana. Terhitung Sabtu (14/1) para penambang pasir illegal tidak diperbolehkan lagi melakukan aktivitas penambangan di Umbulharjo.

Kapolsek Cangkringan AKP E. Sibarani melayangkan surat penghentian aktivitas penambangan tanpa izin di Umbulharjo kepada pemilik lahan penambangan, pengelola penambangan dan pemilik alat berat. Surat dengan nomor B/08/1/2017 tersebut juga dikirim ke Kecamatan Cangkringan, Danramil Cangkringan dan masing-masing Kepala Desa (Umbulharjo, Kepuharjo dan Glagaharjo) sebagai tembusan.

Dalam surat tersebut, Polsek memberi tenggat waktu paling lambat Sabtu 14 Januari 2017 kepada penambang untuk menghentikan aktivitas penambangan di Umbulharjo termasuk penarikan alat berat. “Kalau tidak diindahkan atau masih ada aktivitas penambangan tanpa izin di sana, kami akan melakukan tindakan tegas sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” katanya.

Tak hanya itu, Polsek Pakem pun menyita tiga truk dan satu alat berat yang digunakan penambangan pasir ilegal di kawasan Sungai Boyong, Purwobinangun, Pakem. Saat ini petugas masih terus melakukan proses penyelidikan terhadap pengelola penambangan pasir ilegal tersebut. “Ada indikasi pengelola penambangan pasir tersebut adalah warga sekitar. Padahal pemerintah desa tidak mengeluarkan izin,” kata Kapolsek Pakem Kompol Sudaryanto.

Dari penelusuran Harian Jogja, penambangan illegal yang terjadi di Sleman terjadi di beberapa titik. Selain di Umbulharjo, penambangan pasir illegal juga terjadi di wilayah boyong, Hargobinangun. Meski dilakukan secara manual, namun penambangan yang dilakukan di kawasan pertanian itu merusak kawasan pertanian di sekitar. Setiap hari truk yang hilir mudik bisa lebih dari 100 unit.

Dusun Singlar, Glagaharjo, Cangkringan juga terdapat aktivitas penambangan liar. Eksploitasi pasir juga dilakukan penambang liar di sepanjang Kali Kuning, Dusun Sempu, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak. Beberapa titik penambangan liar belum terdeteksi. Pasalnya, meski penambangan pasir di Cangkringan ditutup, nyatanya masih banyak truk-truk bermuatan material yang berlalu lalang di jalan.

sumber : harianjogja.com

Popular Posts